>Bgian I

Gerimis kian deras menghantam jalanan yang aku tapaki… dengan mengayun langkah yang sedikit berlari aku berusaha mengindari terpaan butir – butiran air yang dijatuhkan dari langit, dalam hati aku sedikit mengeluh: “ duh…. Mengapa harus kau basahi bumi ini sementara aku harus bergayut dengan waktu untuk bisa mencapai tempat tugas dalam waktu singkat”… Huf….!!!! Dengan sedikit terhuyung aku berusaha menahan keseimbangan tubuh ku agar tidak sampai mencium genangan air yang ada di depan ku, tanpa sadar kaki menghantam batu yang ada di depan ku, “ya allah…” ampun ku dalam hati, hujan yang kau turunkan adalah nikmat mu yang tak terhingga, mengapa aku menyesalinya….? Dengan sedikit kegalauan di dalam hati aku terus berlari- lari kecil menembus rintik hujan yang semakin deras…. Seketika aku mengadahkan wajah ku menatap langit di atas sana…. Nampak awan hitam pekat yang membawa hujan akan segera turun dengan lebat, aku berusaha secepat mungkin untuk bisa mencapai pangkalan ojek agar aku bisa lebih cepat sampai ke kantor kecamatan, karena pada hari pertama aku masuk kantor aku tidak ingin terlambat, Ojek inilah yang digunakan warga sini sebagai alat transportasi karena ini lah kenderaan umum satu – satunya yang ada di tempat tugas ku yang baru, aku sengaja memilih pindah di desa untuk mengabdikan hidupku bagi petani – petani yang ada di desa. Aku sudah membulatkan tekad untuk mengabdikan sebagian kehidupanku untuk bisa membantu mereka dalam melakukan usahataninya agar kehidupannya bisa lebih baik. Aku tidak perlu kesenangan hidup di kota yang selalu memberikan kehidupan seperti fatamargana. “Kepergian ku ini tulus Ria” sanggahku ketika teman akrab ku Ria menahan langkahku untuk tetap mengabdi di desa . “Tekadku sudah bulat, bukan karena kekecewaan ku kepada Mas andi, tidak Ria…. Aku harus berangkat”, tanpa bisa berkata apa – apa lagi Ria terpaksa melepas kepergianku untuk menuju tempat tugas ku yang baru, namun dalam hati yang paling dalam dan tanpa bisa aku pungkiri, kepergian ini adalah untuk mengobati luka yang mendalam karena kekecewaan terhadap mas andi yang telah tega menghianati cinta yang telah di bina selama ini, masih tergiang di telinga ketika mas andi menyampaikan : “Bukan zaman nya Siti Nurbaya….. tapi ada hal yang paling tidak mungkin adalah menolak keingginan orang tua dan membuat hati mereka terluka….”. seketika mata ku terbelalak mendengar kata – kata mas andi, aku tak sanggup lagi untuk menopang tubuhku, kata – kata nya bagai kan dentuman keras yang menghantam ulu hati yang paling dalam dan aku tak sanggup lagi berada di dekatnya, aku berusaha sekuat tenaga menyeret langkah kaki ku untuk menjauh dari mas andi, aku tidak perduli lagi dengan teriakan mas andi memanggil namaku, aku berlari dan terus berlari, aku tidak sanggup mendengar ucapan – ucapannya lagi, semudah itukah memalingkan cinta …?

Namun aku tersadar dari lamunan ketika deraian air hujan yang dilimpahkan dari langit semakin besar dan deras, aku berusaha mencari perlindungan agar tubuh ku ini tidak sampai basah sampai di kantor. Seketika mataku melalak kegirangan melihat ada sebuah warung di ujung persimpangan jalan yang aku tempuh, aku berusaha secepat mungkin menuju arah warung tersebut dengan mengayun kan langkah dengan lebih kencang mengikuti irama hujan yang terus turun membasahi permukaan jalanan. Aku mencari tempat perlindungan yang agak sedikit aman agar tubuh dan pakain ku tidak terkena sambaran air hujan. Dari balik dinding warung sayup – sayup aku dengar alunan lagu yang di putar oleh penjaga warung, Namun seketika jantung ku jadi berdenyut lebih kencang mendengar alunan bait demi bait dari lagu itu, lagu itu….. begitu menghentak jiwa sadar ku… “Lagu itu…!!!!!” jerit ku dalam hati…..(bersambung)

Iklan