1.  PENDAHULUAN

Itik hasil pemiliharaan petaninjarang sekali dilakukan pengelohan kecuali dibikin daging bakar, direndang atau pun digoereng dan  jarang sekali dibikin menjadi abon yang dapat tahan lama. Sebelum dijadikan abon, daging itik perlu diberi perlakuan tertentu untuk mengurangi kandungan amonianya dan rasa amis dari daging itik tersebut.

2. BAHAN

1) Daging Itik (10 kg)

2) Bawang merah (1 kg). Sebanyak 750 gram dari bawang ini dijadikan

bawang goreng.

3) Bawang putih (400 gram)

4) Bubuk ketumbar (50 gram)

5) Lengkuas (50 gram

6) Daun salam (15 lembar)

7) Sereh (7 potong)

8) Gula pasir (750 gram)

9) Asam Jawa (50 gram)

10) Santan kental (2000 ml)

3. PERALATAN

1) Pisau dan talenan. Alat ini digunakan untuk menyiangi dan memotong-motong daging itik.

2) Penggiling bumbu. Alat ini digunakan untuk menggiling bumbu sampai halus.

3) Wajan. Alat ini digunakan untuk menggoreng abon.

4) Pemarut. Alat ini digunakan untuk memarut kelapa.

5) Peniris sentrifugal. Alat ini digunakan untuk mengeluarkan minyak dari abon panas yang baru digoreng.

6) Alat press. Alat ini digunakan untuk memeras abon panas sehingga minyaknya keluar.

4.  CARA PEMBUATAN

1) Penyiangan dan pemotongan.  Itik disiangi. Jeroan, insang dan kepala dibuang. Setelah itu, kulit ayam dikelupaskan, dan tulang dibuang. Selanjutnya daging dipotong kecil-kecil (1x1x1 cm), dicuci dan ditiriskan.

2) Perendaman di dalam larutan garam. Potongan daging ikan direndam di

dalam larutan garam 4% (setiap 1 liter air bersih ditambah 40 gram garam),

kemudian disimpan di dalam lemari pendingin selama semalam. Selama

penyimpanan daging diaduk-aduk sesering mungkin. Setelah dingin, daging itik dicuci dan ditiriskan.

3) Pengukusan. Setelah ditiriskan, daging itik dikukus selama 1 jam.

4) Pres. Setelah itu, dalam keadaan panas, daging itik dipres sampai cairannya

keluar.

5) Penyuiran. Potongan daging Itik disuir-suir, kemudian ditumbuk pelan-pelan sehingga berupa serat-serat halus. Selanjutnya suiran ini diolah seperti mengolah abon itik yang telah diterangkan sebelumnya.

6) Penyiapan bumbu dan santan. Lengkuas dan sereh dipukul-pukul sampai memar. Bawang merah (250 gram), bawang putih dan ketumbar digiling halus, kemudian ditumis. Setelah agak harum, ditambahkan santan kental, lengkuas, asam jawa, gula, daun salam dan sereh. Pemanasan diteruskan sampai mendidih dan volume santan tinggal setengahnya.

7. Pemasakan abon. Suiran cucut dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam santan mendidih. Sementara itu, api dikecilkan sekedar menjaga santan tetap mendidih. Pemanasan yang disertai pengadukan dilakukan sampai suiran daging itik menjadi setengah kering. Hasil yang diperoleh disebut dengan abon lembab itik. Abon lembab itik diangkat, kemudian digoreng di dalam minyak panas (suhu 1700 C) sampai garing (bila diremas berkemersik)

8) Penirisan. Abon panas yang baru diangkat dari minyak harus segera ditiriskan. Penirisan dianjurkan dengan menggunakan alat peniris sentrifugal, alat pres ulir, atau pres hidrolik.  Setelah ditiriskan dengan alat peniris sentrifugal, atau alat pres, abon dipisah-pisahkan.

9) Pencampuran dengan bawang goreng. Abon itik yang telah ditiriskan dicampur dengan bawang goreng. Hasil yang diperoleh disebut dengan abon itik.

10) Pengemasan. Abon itik dikemas di dalam kemasan yang tertutup rapat.

Kantong plastik merupakan salah satu kemasan yang cukup baik

digunakan untuk mengemas abon.

Iklan